Mengulas Sembilan Elemen Jurnalistik oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

 

Mengulas Elemen Jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dikaitkan dengan Kode Etik Jurnalistik


Jurnalis, yaitu orang yang bertugas melakukan kegiatan jurnalisme. Jurnalisme adalah sebuah disiplin yang berhubungan dengan mengumpulkan, memverifikasi, melaporkan, dan menganalisis informasi yang dikumpulkan berkenaan dengan peristiwa aktual, termasuk kecenderungan, isu dan orang-orang yang melakukan peliputan (Nurudin, dalam Haurissa, dkk, 2020: 32). Singkatnya, jurnalis adalah individu yang bekerja, mencari, mengolah, mengedit, dan menyiarkan infomasi.

Kode etik merupakan acuan moral untuk mengatur tindak-tanduk seorang wartawan/jurnalis. Pelaksanaan kode etik jurnalistik dapat menjadi salah satu tolak ukur profesionalisme wartawan dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya. Misalnya meliput kejadian tentang bencana alam, ketokohan seseorang, fenomena yang baru terjadi ataupun yang lain-lainnya. Selain fungsinya sebagai media informasi, jurnalistik juga berfungsi mendidik, tulisan ataupun segala sesuatu yang dihasilkan oleh jurnalistik tentu mengandung muatan edukasi (Gawi, G dalam Haurissa, dkk, 2020: 32).

Kovach dan Rosenstiel (dalam Sulistyowati, F dalam Haurissa, dkk, 2020: 34 ) mengatakan bahwa seorang wartawan tidak mencari teman dan juga tidak mencari musuh. Walaupun kadang sulit untuk menolak jasa baik seseorang, tetapi bukan berarti menikmati yang ada dan malah akan berada pada posisi dimana independensi wartawan bisa disalahartikan karena kedekatan dengan seorang relasi. Tetapi bukan berarti wartawan menutup diri dengan dunia luar dan tidak melakukan hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Wartawan bukan seorang yang antisosial hanya berusaha untuk mengurangi hubungan yang dapat mempengaruhi independensinya terhadap sebuah pemberitaan nantinya.

Bill Kovach merupakan keturunan Albina di Tennessee, dibagian selatan negara Amerika Serikat. Ia  yang berasal dari negara Amerika Serikat dan lahir pada tahun 1932. Bill Kovach merupakan keturunan dari keluarga yang berbeda keyakinan. Ayahnya yang beragama Islam yang berasal dari Albina, sedangkan ibunya yang memeluk agama Katolik Ortodox. Pada tahun 1951 Bill Kovach masuk ke dinas kemiliteran dan Ketika itu juga berpapasan dengan perang Korea yang sangat pecah  dan Kovach merupakan anggota kemiliteran yang masuk ke dalam Angkatan Laut.

Setelah keluar dari dinas kemiliteran, Bill Kovach melanjutkan pendidikannya di salah satu Universitas yaitu di East Tennessee State University untuk menempuh Pendidikan Biologi, sehingga Bill Kovach lulus dan mendapaktan gelar sarjana Biologi.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merupakan seorang wartawan yang bisa dikatakan professional dalam bekerja. Kedua jurnalistik ini menulis buku yang berjudul The Elements of Journalism. Kovach mengawali karirnya sebagai seorang wartawan pada tahun 1959 di sebuah surat kabar. Setelah itu bergabung dan membangun karirnya selama 18 tahun di salah satu surat kabar ternama dan terbaik di surat kabar The New York Times, yang merupakan salah satu surat kabar di Amerika Serikat.

Pada tahun 1960, Bill Kovach melalukan penyelidikan tentang “pembelian” suara yang dilakukan dalam pilpres antara Richard Nixon bertanding melawan John F. kennedy dalam pemilihan sebagai presiden Amerika Serikat. Bill Kovach memiliki satu teman yang bernama Peas, Peas disini merupakan salah satu tim sukses untuk memenangkan kubu Kennedy sehingga Peas dijatuhi bersalah. Sebagai wartawan yang mematuhi etika jurnalistik, Bill Kovach tetap menjadikan Peas sebagai tersangka. Meskipun Peas marah kepadanya tetapi ia tetap melakukan kewajibannya sebagai jurnalisme yang menanamkan kode etik kejujuran.

Bill Kovach merupakan wartawan yang professional, beliau juga seorang wartawan yang bisa dianggap tidak memiliki kekurangan dalam hal dunia kejurnalisannya. Dari hal tersebut salah satu redaktur pendiri majalah Tempo yang tak lain bernama Goenawan Mohamad, yang selalu merasakan kesulitan dalam “mencari masalah” dari Bill Kovach itu sendiri. Maka dari itu, Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatakan bahwa Bill Kovach mempunyai “ karir yang panjang dan terhormat”.

Sedangkan Tom Rosenstiel merupakan salah satu mantan wartawan yang berasal dari harian The Los Angeles Times spesialis jurnalisme. Tom Rosenstiel sekarang sedang bergelut dengan menjalankan Commite of Concerned Journals yang merupakan sebuah organisasi di sala satu negara yaitu Wangsinton D.C yang kerjanya berkecimbung di dunia yang tidak lain melakukan riset dan diskusi mengenai media.   

Selain itu, Tom Rosenstiel adalah seorang penulis, jurnalis, kritikus pers dan direktur eksekutif American Press Institute. Tom Rosenteil juga seorang senior non-resinden di Brookings Institution. Tom Rosenstiel merupakan pendiri dan menjadi direktur Projek For Excellence in Journalism (PEJ) selama 16 tahun.

Tom Rosenstiel merupakan salah satu lulusan dari Oberlin College dan Colombia School of Journalism. Tom Rosenstiel bekerja di salah satu tribune di kampung halamanya di Palo Alto, CA pada tahun 1980 hingga 1995 sebagai seorang reporter bisnis dan editor. Setelah ia bekerja di Washington dia meninggalkan times dan bergabung dengan majalah Newsweek pada tahun 1955, di majalah Newsweek Tom Resenstiel menjabat sebagai kepala atau pemimpin koresponden kongres dan meliput revolusi Gingrich.

Tom Rosenstiel mendirikan Project for Excellence in Journalism, merupakan salah satu Lembaga yang berkecimbung di dunia yang memperlajari kinerja pers pada tahun 1997. Selain itu, Rosenstiel juga mendirikan Komite Jurnalis Peduli, sebuah organisasi jurnalis di seluruh dunia yang bekerja di dalam bidang yaitu berbagai media yang peduli akan masa depan jurnalisme kepentingan public. Selain itu Tom Rosenstiel juga merupakan seorang uang ikut serta dalam penulisan “Kurikulum Perjalanan” CCJ yang sekarang bergabung dengan salah satu universitas yaitu University of Missouri di Colombia, Missouri. Tidak hanya itu, Tom Resenstiel di University of Missouri menjabat sebagai professor studi Jurnalisme.

Pada tahun 2001, Tom Rosenstiel Bersama dengan Bill Kovach memulai menulis buku Bersama dengan juduk The Elements of Journalism yang di dalam buku tersebut terdapat beberapa bahasan yaitu mengidentifikasikan, menelusurim dan menjelaskan asal-usul intelektual dari beberapa prinsip-prinsip inti yang ada pada dunia jurnalisme yang berada di Amerika Serikat dan perannya dalam masyarakat sipil.

Pada tahun 2011 buku-buku yang diciptakannya yang memuat tentang jurnalisme adalah salah satunya berjuduk Blur: How To Know What’s True in the Age of Information Overload, Tom Rosenstiel Bersama dengan Bill Kovach juga menawarkan sebuah peta jalan kepada warga abad ke-21 mengenai bagaimana cara konsumen dapat atau mampu menentukan bahwa berita yang mereka dapatkan atau yang mereka terima dapat diandalkan.

Selian itu juga Rosenstiel juga menerbitkan novel pertamanya pada tahun 2017 yang berjudul Kota Cemerlang yang dimana di dalam novel tersebut mengisahkan pertarungan nominasi MA. Tidak berselang lama, ia kembali menulis dan menerbitkan novel keduanya yang berjudul The Good Lie pada tahun 2019.

Kovach dan Rosenstiel merumuskan ada sembilan prinsip jurnalisme setelah melakukan diskusi dan mewawancarai lebih dari 3.000 wartawan selama tiga tahun. Tujuan jurnalisme, demikian kesimpulan mereka, adalah melayani warga agar mereka bisa mengambil sikap dalam menjaga kemerdekaan serta mengatur diri mereka sendiri.

Dalam buku ini BILL Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme. Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun.

Kovach dan Roenstiel merumuskan elemen-elemen dasar jurnalisme ini menjadi sembilan yang terdiri dari elemen kebenaran fungsional, penempatan loyalitas, jurnalisme verifikasi, independensi, memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas, forum publik, relevan sekaligus memikat, proporsional dan komprehensif, dan terakhir pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggung jawab sosial. Sembilan elemen ini sama kedudukannya. Elemen satu dengan elemen lainnya saling mendukung atau terkait. Pada intinya elemen - elemen dasar jurnalisme berisikan petunjuk, pedoman maupun pegangan bagi para wartawan dalam memburu berita (fakta atau kejadian), meliput berbagai peristiwa,dan kemudian menuliskannya untuk dikonsumsi oleh khalayak.

https://images.app.goo.gl/Grr4cBTyuRJYQpGQ7

Wartawan setidaknya harus memenuhi 9 elemen dasar jurnalisme yang diungkapkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (disarikan dari hasil penelitian Committee of Concerned Journalist). 9 elemen tersebut adalah :

1.   Kebenaran Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.

Setiap orang mempunyai versi kebenarannya masing-masing sesuai latar belakang yang mereka miliki. Namun, yang diartikan sebagai kebenaran disini bukanlah kebenaran yang bersifat teoritis atau berada pada tataran filosofis semata. Jurnalisme harus berpihak pada kebenaran fungsional, kebenaran yang sesuai dengan fungsinya, kebenaran yang dibentuk selapis demi selapis.

Bill Kovach dan Tom Rosenteil mengemukakan bahwa masyarakat luas membutuhkan prosedur dan proses guna mendapatkan sebuah kebenaran fungsional. Seperti halnya contohnya profesi polisi sebagai aparatur negara yang bertugas sebagai pengaman negara yang bertugas melacak dan menangkap tersangka dalam sebuah kejahatan berdasarkan kebenaran fungsional. Selain itu, hakim juga menjalankan tugasnya berdasarkan dengan kebenaran fungsional. Dan guru-guru di sekolah yang mengajarkan pembelajaran seperti bahasa Indonesia, matematika, sejarah, sosiologi, fisika, biologi dan lain sebagainya. Semua itu adalah kebenaran yang didasarkan atas kebenaran fungsional.

Sedangkan kebenaran bisa saja dianggap bisa direvisi, terdakwa atau tersangka bisa dibebaskan, hakim bisa salah dalam menentukan hukuman, pelajaran yang disampaikan guru pada saat pembelajaran juga bisa saja salah. Bahkan hukum-hukum ilmu alam pun juga masih bisa direvisi dan dibenarkan. Namun hal itu tidak dilakukan di dalam dunia jurnalisme. Di dalam jurnalisme sangatlah penting yang namanya kebenaran. Di dalam jurnalisme kebenaran bukan lagi sebagai tataran filosofis melainkan kebenaran dalam tataran fungsional. Masyarakat luas membutuhkan informasi yang benar dan sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi sehingga informasi yang didapatkan mampu dipertanggungjawabkan dengan baik dan tidak menimbulkan kesalah pahaman antara jurnalis dengan penerima informasi atau masyarakat luas dan pembaca berita tersebut. Contoh sederhana, informasi lalu lintas di jalan agar pengendara bisa mengambil rute atau jalan yang lancer tanpa hambatan. Orang juga membutuhkan harga pangan di pasaran, selain itu juga bisa berupa kejadian-kejaidan kecelakaan, bencana alam, perampokan, pembunuhan dan ramalan cuaca dengan benar dan akurat, sehingga tidak ada simpang siur kebenaran suatu informasi yang didapat masyarakat atau pembaca berita tersebut.

2.    Loyalitas Loyalitas pertama jurnalisme ada pada warga.

Komitmen kepada warga (citizen) lebih besar daripada egoisme profesional. Loyalitas wartawan bukan terletak pada pemerintah, pengiklan, ataupun perusahaan tempat mereka bekerja, tetapi ada pada khalayak sebagai prinsip inti jurnalisme.

Sejak tahun 1980-an banyak sekali yang semula berprofesi sebagai wartawan berlaih kerja menjadi seorang pembisnis. Dijelaskan bahwa ada sepuluh wartawan yang didapati menghabiskan waktunya untuk mengurus bisnis dan manajemen daripada profesi awalnya yaitu wartawan atau jurnalis.

Kovach dan Rosenstiel khawatir banyaknya wartawan yang mengurusi bisnis bisa mengaburkan misi media dalam melayani kepentingan masyarakat. Bisnis media beda dengan bisnis kebanyakan. Dalam bisnis media ada sebuah segitiga. Sisi pertama adalah pembaca, pemirsa, atau pendengar. Sisi kedua adalah pemasang iklan. Sisi ketiga adalah masyarakat (citizens).

Berbeda dengan kebanyakan bisnis, dalam bisnis media, pemirsa, pendengar atau pembaca bukanlah pelanggan (customer). Kebanyakan media, termasuk televisi, radio, maupun dotcom, memberikan berita secara gratis. Orang tak membayar untuk menonton televisi, membaca internet, atau mendengarkan radio. Bahkan dalam bisnis suratkabar pun, kebanyakan pembaca hanya membayar sebagian kecil dari ongkos produksi. Ada subsidi buat pembaca.

3.    Jurnalisme Verifikasi

Pada akhirnya disiplin verifikasi yang memisahkan jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Masuknya unsur jurnalisme verifikasi pada elemen dasar jurnalisme disebabkan oleh pentingnya proses verifikasi dalam pembuatan berita, yang nantinya akan disajikan kepada khalayak. verifikasi adalah suatu proses atau kegiatan untuk menetapkan kebenaran dan kecermatan suatu fakta, data, informasi, atau pernyataan. Verifikasi dilakukan oleh wartawan atau redaktur terhadap berita yang akan ditulisnya sebelum berita tersebut dimuat di media massa dan dikonsumsi oleh khalayak. Proses verifikasi dilakukan untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam pembuatan berita.

Disiplin mampu membuat wartawan menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni.

Bill Kovach dan Tom Ronsenstiel menjelakan bahwa tidak semua wartawan memiliki pemahaman yang sama, karena setiap wartawan itu memang pada dasarnya berbeda-beda. Tidak semua wartawan mengetahui dan memahami dengan baik mengenai standar minimal verivikasi. Karena itulah, setiap wartawan tidak bisa dikatakan sama. Kurangnya komunikasi antar wartawan dengan baik dan lancer, menyebabkan ketiinggalan atau ketidakpahaman pada disiplin dalam jurnalisme. Karena orang banyak yang sering mengaitkan denga napa yang biasa terjadi atau disebut sebagai objektifitas.

Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi:

–  Jangan menambah atau mengarang apa pun;

–  Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar;

–  Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase;

–  Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;

–  Bersikaplah rendah hati.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tidak hanya menawarkan lima konsep saja, mereka juga menawarkan beberapa metode yang kongkrit dalam lekakukan kegiatan verivikasi.

a.  Pertama : Penyuntingan secara skeptis. Maksudnya adalah dalam kegiatan penyuntingan ini harus dilakukan secara bertahan, mulai dari baris demi baris, kalimat demi kalimat dengan sikap yang skeptis.

b.    Kedua : memeriksa akurasi dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan.

c.    Ketiga Jangan Berasumsi: Pada saat mendapatkan informasi baik dari media-media resmi seperti tv dan berita jangan langsung percaya akan kebenarannya. David memakai tiga yaitu Lingkaran paling luar berisi data-data sekunder terutama kliping media lain. Lingkaran yang lebih kecil adalah dokumen-dokumen misalnya laporan pengadilan, laporan polisi, laporan keuangan dan sebagainya. Lingkaran terdalam adalah saksi mata.

d.  Keempat : pengecekan fakta ala Tom French. Pengecekan dilakukan dengan menggunakan pensil yang berwarna untuk mengecek sebuah kebenaran-kebenaran atau fakta dalam karanganya, dimulai secara bertahap yaitu dari baris per baris, kemudian dilanjut lagi dari kalimat per kalimat, sehingga pengecekan dilakukan secara mendalam dan teliti hal itu bertujuan agar informasi yang diterima benar-benar fakta.

4.    Independensi

Wartawan harus tetap independen dari pihak yang mereka liput. Elemen ini menjelaskan bahwa jurnalisme tidak seharusnya bersikap netral, melainkan harus independen. Dalam hal ini berarti bahwa jurnalisme bisa berpihak pada kebenaran seperti yang dimaksud oleh elemen pertama.

Dalam dunia jurnalisme independent itu lebih penting daripada netralitas. Tetapi wartawan dalam menyampaikan pendapat juga harus tetap mempertahankan keakuratan data-data yang telah didapat. Di dalam jurnalistik kesetiaan dalam kebenaran inilah yang menjadikan jurnalis berbeda dengan juru penerangan. Di dalam dunia jurnalisme dalam berkomunikasi bukan hal yang sama dengan menyampaikan pendapat. Memang pada dasarnya setiap orang bebas menyampaikan pendapatnya. Selain itu independent dalam dunia jurnalistik harus tetap dipertahankan dan dijunjung tingi-tingi oleh jurnalis-jurnalis.

5.     Memantau Kekuasaan dan Menyuarakan Kaum Tak Bersuara

Wartawan harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan. Elemen ini berkaitan dengan fungsi pers sebagai anjing penjaga (watch dog). Pers memantau pemerintahan dan semua lembaga yang kuat di masyarakat, untuk mencegah para pemimpin melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Tetapi bukan berarti bahwa pers hadir untuk "menyusahkan orang senang dan menyenangkan orang susah". Pers harus bisa mengenali kapan lembaga kekuasaan bekerja secara efektif atau tidak. Jika pers tidak bisa menggambarkan keberhasilan seperti halnya kegagalan, maka pers tidak bisa bertindak sebagai pemantau kekuasaan. Selain itu, pers juga berkewajiban menampilkan sudut-sudut kehidupan masyarakat yang tidak terlihat serta menyuarakan aspirasi kaum yang tidak bisa "bersuara" dan berada di bawah. 

Salah satu cara yang dilakukan dalam kegiatan pemantauan ini bisa berupa melakukan kegiatan investigasi reporting yang dimana wartawan berhasil dalam membuktikan siapa yang bersalah dalam suatu kejadian yang sedang terjadi. Sehingga dalam investigasi tidak salah menjatuhkan tersangka yang justru tidak salah.

Salah satu akibat yang harus ditanggung oleh wartawan pada saat melakukan investigasi adalah kecenderungan media bersangkutan ikut serta dalam mengambil sikap terhadap isu, berita yang dimana mereka juga ikut melakukan investigasi.

Pada investigasi ini hasil yang didapat juga bisa salah, dan jika hal itu sampai terjadi maka akan merugikan banyak pihak, terutama terdakwa akan terlihat seperti pelaku yang menderita dan media yang meliputnya juga akan tercemar nama baiknya.

6    Jurnalisme Sebagai Forum Publik

Jurnalisme harus menghadirkan sebuah forum untuk kritik dan komentar publik. Semua bentuk media yang dipakai sehari-hari oleh wartawan, bisa berfungsi untuk menciptakan sebuah forum dimana publik diingatkan akan masalah-masalah penting sedemikian rupa sehingga mendorong warga untuk mengambil penilaian dan sikap. Bahkan di negara yang berkembang dan beragam pun, fungsi forum pers ini bisa menghasilkan demokrasi. Tetapi harus diperhatikan bahwa forum ini berlaku untuk seluruh komunitas, bukan hanya untuk kelompok yang berpengaruh atau menarik secara demografis.

Pada zaman seperti ini, teknologi yang semakin pesat dalam berkembang. Sehingga memudahkan untuk membuat sebuah forum melalui media digital yang bisa bekerja secara maksimal. Sekarang banyak kegiatan siaran langsung melalui televisi, radio, maupun live disuatu aplikasi. Meskipun hal itu memudahkan dalam hal menyebarkan berita namun juga bisa berdampak buruk di dunia jurnalistik karena banyak berita yang menyesatkan dan tidak benar-benar terjadi.

7.    Menarik dan Relevan

Wartawan harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan. Tugas wartawan adalah menemukan cara membuat hal penting menjadi menarik untuk setiap cerita. Jurnalisme adalah bertutur dengan sebuah tujuan. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan orang dalam memahami dunia. Tantangannya adalah membuat informasi tersebut menjadi bermakna, relevan, dan enak disimak.

Banyak yang menganggap sepele bahwa berita yang menarik atau yang dapat memikat hati pembaca lebih sering dianggap lucu dan tidak serius dalam memuat isi berita. Namun juka berita mengandung relevansi malah dianggap tidak menarik untuk dibaca atau dikonsumsi oleh pembaca karena dianggap kering, garing, dan membosankan.

Bill Kovach dan Rosenstiel sebelumnya telah menerbitka buku yang berjudul Warp Speed: American in the Age of Mixed. Buku ini memuat bahwa mereka berdua telah melakukan kegiatan analisis yang tajam dan mendalam terhadap liputan-liputan media di Amerika atas skandal Presiden Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Mereka lebih mementingkan isu yang lebih relevan atau sesuai dengan kejadian daripada hanya sekedar menekankan pada sisi sensai yang didapat dari skandal presiden itu sendiri. 

8.    Komprehensif dan Proporsional

Wartawan harus menjaga proporsi berita dan menjadikannya komprehensif. Seperti halnya peta, nilai jurnalisme bergantung pada kelengkapan dan proporsionalitas. Mengumpamakan jurnalisme sebagai pembuatan peta membantu kita melihat bahwa proporsi dan komprehensivitas adalah kunci akurasi. Hal ini bukan hanya berlaku bagi sebuah berita. Halaman depan dan sebuah berita yang lucu dan menarik pun, jika tidak mengandung sesuatu yang signifikan adalah sebuah pemutarbalikan.

Kovach dan Rosenstiel mengatakan bahwa banyak sekali surat kabar yang menyajikan sebuah berita tidak proposional. Banyak berita yang judul-judulnya dibuat sensional. Ditekankan pada aspek emosional. Proporsional serta komperhensif dalam dunia jurnalistik memang seilmiah dengan pembuatan sebuah peta. Karena berita yang dibuat harus dipilih, mana yang sekiranya berita penting dan mana berita yang tidak penting, mana yang harusnya menjadi berita utama dan mana yang hanya dimasukkan dalam berita sebagai berita pendukung saja. Menurut Kovach dan Rosenstiel pemilihan berita harus subjektif.

Dengan penyajian berita yang Proporsional serta komperhensif masyarakat atau membaca bisa mengetahui bahwa wartawan mencoba proposional atau tidak, begitu juga sebaliknya masyarakat atau pembaca juga akan mengetahui jika wartawan Cuma berniat telanjang bulat. 

9.    Wartawan Bertanggung Jawab Pada Nurani

Setiap wartawan, dari ruang redaksi sampai ruang direksi harus mempunyai etika dan tanggung jawab personal sebagai panduan moral. Wartawan berkewajiban untuk menyuarakan hati nuraninya dan membiarkan orang lain untuk melakukan hal serupa. Keterbukaan redaksi merupakan kunci utama untuk mewujudkan hal seperti itu. Setiap orang yang bekerja dalam organisasi berita harus mengakui adanya kewajiban pribadi untuk bersikap beda atau menentang redaktur, pemilik, pengiklan bahkan warga dan otoritas mapan jika kejujuran dan akurasi mengharuskan mereka berbuat begitu.

Menciptakan prinsip itu tidaklah mudah karena berdasarkan kebutuhan, ruang reaksi bukanlah tempat dimana semokrasi dijalankan. Menciptakan suasana kerja menjadi nyaman, bebas, dan semua orang memiliki hak dalam berpendapat itu tidak mudah. Sedangkan setiap individu diharuskan untuk menyuarakan hati nurani sehingga urusan manajemen jadi lebih baik dan berjalan dengan baik. Akan tetapi redaktur memiliki tugas untuk memahami persoalan ini. Jika wartawan berani mengambil keputusan secara final maka harus siap dalam menerima kritik dan saran dari pembaca.

Inilah Sembilan elemen yang ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Resenstiel dalam dunia jurnalisme. Semoga bisa menambah pengetahuan dan pemaham mengenai dunia jurnalisme. Kritik dan saran sangat saya butuhkan. Terimakasih.

Referensi :

Web blog Himmah Online : https://himmahonline.id/analisis/9-elemen-jurnalisme/

https://en.wikipedia.org/wiki/Tom_Rosenstiel

Ichi Kepompong: http://ichi-kepompong.blogspot.com/2008/11/sembilan-elemen-jurnalisme.html?m=1

Megandika Wicaksono : http://megandika.blogspot.com/2012/12/biografi-bill-kovach.html?m=1

https://shandaymyday.blogspot.com/2019/11/10-elemen-jurnalisme-menurut-bill-kovach.html?m=1

Haurissa,  Vanesya Christin, dkk. 2020. “ Integrasi Kajian Budaya Empat Perdana Pada Negeri Hila Peranan Jurnalistik Ambon Ekspres untuk Mendidik Pengguna Media melalui Etika Berita bagi Masyarakat di Kota Ambon”. Jurnal Pttimura Civic, 1(1):  26-37.

Wijaya, Toni. 2019. “ Pengaruh 9 Elemen Jurnalisme dalam Kebijakan Redaksional Teknora”. Jurnal MetaKom, 3 (1): 1-15.

 




 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Berita Nalar Pincang UGM atas Kasus Pemerkosaan

Mengenal Mochtar Lubis (1922-2004) Jurnalistik Indonesia