Mengulas Sembilan Elemen Jurnalistik oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel
Mengulas
Elemen Jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dikaitkan dengan Kode Etik
Jurnalistik
Jurnalis,
yaitu orang yang bertugas melakukan kegiatan jurnalisme. Jurnalisme adalah
sebuah disiplin yang berhubungan dengan mengumpulkan, memverifikasi,
melaporkan, dan menganalisis informasi yang dikumpulkan berkenaan dengan
peristiwa aktual, termasuk kecenderungan, isu dan orang-orang yang melakukan
peliputan (Nurudin, dalam Haurissa, dkk, 2020: 32). Singkatnya, jurnalis adalah
individu yang bekerja, mencari, mengolah, mengedit, dan menyiarkan infomasi.
Kode
etik merupakan acuan moral untuk mengatur tindak-tanduk seorang
wartawan/jurnalis. Pelaksanaan kode etik jurnalistik dapat menjadi salah satu
tolak ukur profesionalisme wartawan dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya.
Misalnya meliput kejadian tentang bencana alam, ketokohan seseorang, fenomena
yang baru terjadi ataupun yang lain-lainnya. Selain fungsinya sebagai media
informasi, jurnalistik juga berfungsi mendidik, tulisan ataupun segala sesuatu
yang dihasilkan oleh jurnalistik tentu mengandung muatan edukasi (Gawi, G dalam
Haurissa, dkk, 2020: 32).
Bill
Kovach merupakan keturunan Albina di Tennessee, dibagian selatan negara Amerika
Serikat. Ia yang berasal dari negara
Amerika Serikat dan lahir pada tahun 1932. Bill Kovach merupakan keturunan dari
keluarga yang berbeda keyakinan. Ayahnya yang beragama Islam yang berasal dari
Albina, sedangkan ibunya yang memeluk agama Katolik Ortodox. Pada tahun 1951
Bill Kovach masuk ke dinas kemiliteran dan Ketika itu juga berpapasan dengan
perang Korea yang sangat pecah dan
Kovach merupakan anggota kemiliteran yang masuk ke dalam Angkatan Laut.
Setelah
keluar dari dinas kemiliteran, Bill Kovach melanjutkan pendidikannya di salah
satu Universitas yaitu di East Tennessee State University untuk menempuh
Pendidikan Biologi, sehingga Bill Kovach lulus dan mendapaktan gelar sarjana
Biologi.
Bill
Kovach dan Tom Rosenstiel merupakan seorang wartawan yang bisa dikatakan
professional dalam bekerja. Kedua jurnalistik ini menulis buku yang berjudul The
Elements of Journalism. Kovach mengawali karirnya sebagai seorang wartawan
pada tahun 1959 di sebuah surat kabar. Setelah itu bergabung dan membangun
karirnya selama 18 tahun di salah satu surat kabar ternama dan terbaik di surat
kabar The New York Times, yang merupakan salah satu surat kabar di Amerika
Serikat.
Pada
tahun 1960, Bill Kovach melalukan penyelidikan tentang “pembelian” suara yang
dilakukan dalam pilpres antara Richard Nixon bertanding melawan John F. kennedy
dalam pemilihan sebagai presiden Amerika Serikat. Bill Kovach memiliki satu
teman yang bernama Peas, Peas disini merupakan salah satu tim sukses untuk
memenangkan kubu Kennedy sehingga Peas dijatuhi bersalah. Sebagai wartawan yang
mematuhi etika jurnalistik, Bill Kovach tetap menjadikan Peas sebagai
tersangka. Meskipun Peas marah kepadanya tetapi ia tetap melakukan kewajibannya
sebagai jurnalisme yang menanamkan kode etik kejujuran.
Sedangkan
Tom Rosenstiel merupakan salah satu mantan wartawan yang berasal dari harian The
Los Angeles Times spesialis jurnalisme. Tom Rosenstiel sekarang
sedang bergelut dengan menjalankan Commite of Concerned Journals yang merupakan
sebuah organisasi di sala satu negara yaitu Wangsinton D.C yang kerjanya
berkecimbung di dunia yang tidak lain melakukan riset dan diskusi mengenai
media.
Selain
itu, Tom Rosenstiel adalah seorang penulis, jurnalis, kritikus pers dan
direktur eksekutif American Press Institute. Tom Rosenteil juga seorang senior
non-resinden di Brookings Institution. Tom Rosenstiel merupakan pendiri dan
menjadi direktur Projek For Excellence in Journalism (PEJ) selama 16 tahun.
Tom
Rosenstiel merupakan salah satu lulusan dari Oberlin College dan Colombia School
of Journalism. Tom Rosenstiel bekerja di salah satu tribune di kampung halamanya
di Palo Alto, CA pada tahun 1980 hingga 1995 sebagai seorang reporter bisnis
dan editor. Setelah ia bekerja di Washington dia meninggalkan times dan
bergabung dengan majalah Newsweek pada tahun 1955, di majalah Newsweek Tom
Resenstiel menjabat sebagai kepala atau pemimpin koresponden kongres dan meliput
revolusi Gingrich.
Tom
Rosenstiel mendirikan Project for Excellence in Journalism, merupakan salah satu
Lembaga yang berkecimbung di dunia yang memperlajari kinerja pers pada tahun
1997. Selain itu, Rosenstiel juga mendirikan Komite Jurnalis Peduli, sebuah
organisasi jurnalis di seluruh dunia yang bekerja di dalam bidang yaitu
berbagai media yang peduli akan masa depan jurnalisme kepentingan public.
Selain itu Tom Rosenstiel juga merupakan seorang uang ikut serta dalam penulisan
“Kurikulum Perjalanan” CCJ yang sekarang bergabung dengan salah satu
universitas yaitu University of Missouri di Colombia, Missouri. Tidak hanya
itu, Tom Resenstiel di University of Missouri menjabat sebagai professor studi
Jurnalisme.
Pada
tahun 2001, Tom Rosenstiel Bersama dengan Bill Kovach memulai menulis buku
Bersama dengan juduk The Elements of Journalism yang di dalam buku tersebut
terdapat beberapa bahasan yaitu mengidentifikasikan, menelusurim dan
menjelaskan asal-usul intelektual dari beberapa prinsip-prinsip inti yang ada
pada dunia jurnalisme yang berada di Amerika Serikat dan perannya dalam
masyarakat sipil.
Pada
tahun 2011 buku-buku yang diciptakannya yang memuat tentang jurnalisme adalah
salah satunya berjuduk Blur: How To Know What’s True in the Age of Information
Overload, Tom Rosenstiel Bersama dengan Bill Kovach juga menawarkan sebuah peta
jalan kepada warga abad ke-21 mengenai bagaimana cara konsumen dapat atau mampu
menentukan bahwa berita yang mereka dapatkan atau yang mereka terima dapat
diandalkan.
Selian
itu juga Rosenstiel juga menerbitkan novel pertamanya pada tahun 2017 yang
berjudul Kota Cemerlang yang dimana di dalam novel tersebut mengisahkan
pertarungan nominasi MA. Tidak berselang lama, ia kembali menulis dan
menerbitkan novel keduanya yang berjudul The Good Lie pada tahun 2019.
Kovach dan Rosenstiel
merumuskan ada sembilan prinsip jurnalisme setelah melakukan diskusi dan
mewawancarai lebih dari 3.000 wartawan selama tiga tahun. Tujuan jurnalisme,
demikian kesimpulan mereka, adalah melayani warga agar mereka bisa mengambil
sikap dalam menjaga kemerdekaan serta mengatur diri mereka sendiri.
Dalam
buku ini BILL Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme.
Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan
banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga
tahun.
Kovach
dan Roenstiel merumuskan elemen-elemen dasar jurnalisme ini menjadi sembilan
yang terdiri dari elemen kebenaran fungsional, penempatan loyalitas, jurnalisme
verifikasi, independensi, memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang
tertindas, forum publik, relevan sekaligus memikat, proporsional dan
komprehensif, dan terakhir pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggung
jawab sosial. Sembilan elemen ini sama kedudukannya. Elemen satu dengan elemen
lainnya saling mendukung atau terkait. Pada intinya elemen - elemen dasar
jurnalisme berisikan petunjuk, pedoman maupun pegangan bagi para wartawan dalam
memburu berita (fakta atau kejadian), meliput berbagai peristiwa,dan kemudian
menuliskannya untuk dikonsumsi oleh khalayak.
https://images.app.goo.gl/Grr4cBTyuRJYQpGQ7
Wartawan
setidaknya harus memenuhi 9 elemen dasar jurnalisme yang diungkapkan oleh Bill
Kovach dan Tom Rosenstiel (disarikan dari hasil penelitian Committee of
Concerned Journalist). 9 elemen tersebut adalah :
1.
Kebenaran Kewajiban pertama jurnalisme
adalah pada kebenaran.
Setiap orang mempunyai versi
kebenarannya masing-masing sesuai latar belakang yang mereka miliki. Namun,
yang diartikan sebagai kebenaran disini bukanlah kebenaran yang bersifat
teoritis atau berada pada tataran filosofis semata. Jurnalisme harus berpihak
pada kebenaran fungsional, kebenaran yang sesuai dengan fungsinya, kebenaran
yang dibentuk selapis demi selapis.
Bill Kovach dan Tom Rosenteil
mengemukakan bahwa masyarakat luas membutuhkan prosedur dan proses guna
mendapatkan sebuah kebenaran fungsional. Seperti halnya contohnya profesi
polisi sebagai aparatur negara yang bertugas sebagai pengaman negara yang
bertugas melacak dan menangkap tersangka dalam sebuah kejahatan berdasarkan
kebenaran fungsional. Selain itu, hakim juga menjalankan tugasnya berdasarkan
dengan kebenaran fungsional. Dan guru-guru di sekolah yang mengajarkan
pembelajaran seperti bahasa Indonesia, matematika, sejarah, sosiologi, fisika,
biologi dan lain sebagainya. Semua itu adalah kebenaran yang didasarkan atas
kebenaran fungsional.
Sedangkan kebenaran bisa saja
dianggap bisa direvisi, terdakwa atau tersangka bisa dibebaskan, hakim bisa salah
dalam menentukan hukuman, pelajaran yang disampaikan guru pada saat pembelajaran
juga bisa saja salah. Bahkan hukum-hukum ilmu alam pun juga masih bisa direvisi
dan dibenarkan. Namun hal itu tidak dilakukan di dalam dunia jurnalisme. Di
dalam jurnalisme sangatlah penting yang namanya kebenaran. Di dalam jurnalisme
kebenaran bukan lagi sebagai tataran filosofis melainkan kebenaran dalam
tataran fungsional. Masyarakat luas membutuhkan informasi yang benar dan sesuai
dengan apa yang benar-benar terjadi sehingga informasi yang didapatkan mampu
dipertanggungjawabkan dengan baik dan tidak menimbulkan kesalah pahaman antara jurnalis dengan penerima informasi atau masyarakat luas dan pembaca
berita tersebut. Contoh sederhana, informasi lalu lintas di jalan agar
pengendara bisa mengambil rute atau jalan yang lancer tanpa hambatan. Orang
juga membutuhkan harga pangan di pasaran, selain itu juga bisa berupa
kejadian-kejaidan kecelakaan, bencana alam, perampokan, pembunuhan dan ramalan
cuaca dengan benar dan akurat, sehingga tidak ada simpang siur kebenaran suatu
informasi yang didapat masyarakat atau pembaca berita tersebut.
2. Loyalitas
Loyalitas pertama jurnalisme ada pada warga.
Komitmen kepada warga (citizen) lebih
besar daripada egoisme profesional. Loyalitas wartawan bukan terletak pada
pemerintah, pengiklan, ataupun perusahaan tempat mereka bekerja, tetapi ada
pada khalayak sebagai prinsip inti jurnalisme.
Sejak tahun 1980-an banyak sekali
yang semula berprofesi sebagai wartawan berlaih kerja menjadi seorang
pembisnis. Dijelaskan bahwa ada sepuluh wartawan yang didapati menghabiskan
waktunya untuk mengurus bisnis dan manajemen daripada profesi awalnya yaitu
wartawan atau jurnalis.
Kovach
dan Rosenstiel khawatir banyaknya wartawan yang mengurusi bisnis bisa
mengaburkan misi media dalam melayani kepentingan masyarakat. Bisnis media beda
dengan bisnis kebanyakan. Dalam bisnis media ada sebuah segitiga. Sisi pertama
adalah pembaca, pemirsa, atau pendengar. Sisi kedua adalah pemasang iklan. Sisi
ketiga adalah masyarakat (citizens).
Berbeda
dengan kebanyakan bisnis, dalam bisnis media, pemirsa, pendengar atau pembaca
bukanlah pelanggan (customer). Kebanyakan media, termasuk televisi, radio,
maupun dotcom, memberikan berita secara gratis. Orang tak membayar untuk
menonton televisi, membaca internet, atau mendengarkan radio. Bahkan dalam
bisnis suratkabar pun, kebanyakan pembaca hanya membayar sebagian kecil dari
ongkos produksi. Ada subsidi buat pembaca.
3. Jurnalisme
Verifikasi
Pada akhirnya disiplin verifikasi
yang memisahkan jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Masuknya
unsur jurnalisme verifikasi pada elemen dasar jurnalisme disebabkan oleh
pentingnya proses verifikasi dalam pembuatan berita, yang nantinya akan
disajikan kepada khalayak. verifikasi adalah suatu proses atau kegiatan untuk
menetapkan kebenaran dan kecermatan suatu fakta, data, informasi, atau
pernyataan. Verifikasi dilakukan oleh wartawan atau redaktur terhadap berita
yang akan ditulisnya sebelum berita tersebut dimuat di media massa dan
dikonsumsi oleh khalayak. Proses verifikasi dilakukan untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan
yang mungkin terjadi dalam pembuatan berita.
Disiplin
mampu membuat wartawan menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru,
manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah
yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni.
Bill
Kovach dan Tom Ronsenstiel menjelakan bahwa tidak semua wartawan memiliki
pemahaman yang sama, karena setiap wartawan itu memang pada dasarnya berbeda-beda.
Tidak semua wartawan mengetahui dan memahami dengan baik mengenai standar
minimal verivikasi. Karena itulah, setiap wartawan tidak bisa dikatakan sama. Kurangnya
komunikasi antar wartawan dengan baik dan lancer, menyebabkan ketiinggalan atau
ketidakpahaman pada disiplin dalam jurnalisme. Karena orang banyak yang sering
mengaitkan denga napa yang biasa terjadi atau disebut sebagai objektifitas.
Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam
verifikasi:
– Jangan menambah atau mengarang apa pun;
–
Jangan menipu atau menyesatkan pembaca,
pemirsa, maupun pendengar;
– Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase;
– Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;
– Bersikaplah rendah hati.
Bill
Kovach dan Tom Rosenstiel tidak hanya menawarkan lima konsep saja, mereka juga
menawarkan beberapa metode yang kongkrit dalam lekakukan kegiatan verivikasi.
a. Pertama
: Penyuntingan secara skeptis. Maksudnya adalah dalam kegiatan penyuntingan ini
harus dilakukan secara bertahan, mulai dari baris demi baris, kalimat demi kalimat
dengan sikap yang skeptis.
b. Kedua
: memeriksa akurasi dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan.
c. Ketiga
Jangan Berasumsi: Pada saat mendapatkan informasi baik dari media-media resmi
seperti tv dan berita jangan langsung percaya akan kebenarannya. David memakai
tiga yaitu Lingkaran paling luar berisi data-data sekunder terutama kliping media
lain. Lingkaran yang lebih kecil adalah dokumen-dokumen misalnya laporan
pengadilan, laporan polisi, laporan keuangan dan sebagainya. Lingkaran terdalam
adalah saksi mata.
d. Keempat : pengecekan fakta ala Tom French. Pengecekan dilakukan dengan menggunakan pensil yang berwarna untuk mengecek sebuah kebenaran-kebenaran atau fakta dalam karanganya, dimulai secara bertahap yaitu dari baris per baris, kemudian dilanjut lagi dari kalimat per kalimat, sehingga pengecekan dilakukan secara mendalam dan teliti hal itu bertujuan agar informasi yang diterima benar-benar fakta.
4. Independensi
Wartawan harus tetap independen dari
pihak yang mereka liput. Elemen ini menjelaskan bahwa jurnalisme tidak
seharusnya bersikap netral, melainkan harus independen. Dalam hal ini berarti
bahwa jurnalisme bisa berpihak pada kebenaran seperti yang dimaksud oleh elemen
pertama.
Dalam dunia jurnalisme independent itu
lebih penting daripada netralitas. Tetapi wartawan dalam menyampaikan pendapat
juga harus tetap mempertahankan keakuratan data-data yang telah didapat. Di dalam
jurnalistik kesetiaan dalam kebenaran inilah yang menjadikan jurnalis berbeda
dengan juru penerangan. Di dalam dunia jurnalisme dalam berkomunikasi bukan hal
yang sama dengan menyampaikan pendapat. Memang pada dasarnya setiap orang bebas
menyampaikan pendapatnya. Selain itu independent dalam dunia jurnalistik harus
tetap dipertahankan dan dijunjung tingi-tingi oleh jurnalis-jurnalis.
5. Memantau
Kekuasaan dan Menyuarakan Kaum Tak Bersuara
Wartawan harus
bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan. Elemen ini berkaitan
dengan fungsi pers sebagai anjing penjaga (watch dog). Pers memantau
pemerintahan dan semua lembaga yang kuat di masyarakat, untuk mencegah para
pemimpin melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Tetapi bukan
berarti bahwa pers hadir untuk "menyusahkan orang senang dan menyenangkan
orang susah". Pers harus bisa mengenali kapan lembaga kekuasaan bekerja
secara efektif atau tidak. Jika pers tidak bisa menggambarkan keberhasilan
seperti halnya kegagalan, maka pers tidak bisa bertindak sebagai pemantau
kekuasaan. Selain itu, pers juga berkewajiban menampilkan sudut-sudut kehidupan
masyarakat yang tidak terlihat serta menyuarakan aspirasi kaum yang tidak bisa
"bersuara" dan berada di bawah.
Salah satu cara yang dilakukan dalam
kegiatan pemantauan ini bisa berupa melakukan kegiatan investigasi reporting yang
dimana wartawan berhasil dalam membuktikan siapa yang bersalah dalam suatu
kejadian yang sedang terjadi. Sehingga dalam investigasi tidak salah
menjatuhkan tersangka yang justru tidak salah.
Salah satu akibat yang harus
ditanggung oleh wartawan pada saat melakukan investigasi adalah kecenderungan
media bersangkutan ikut serta dalam mengambil sikap terhadap isu, berita yang
dimana mereka juga ikut melakukan investigasi.
Pada investigasi ini hasil yang
didapat juga bisa salah, dan jika hal itu sampai terjadi maka akan merugikan
banyak pihak, terutama terdakwa akan terlihat seperti pelaku yang menderita dan
media yang meliputnya juga akan tercemar nama baiknya.
6 Jurnalisme
Sebagai Forum Publik
Jurnalisme harus menghadirkan sebuah
forum untuk kritik dan komentar publik. Semua bentuk media yang dipakai
sehari-hari oleh wartawan, bisa berfungsi untuk menciptakan sebuah forum dimana
publik diingatkan akan masalah-masalah penting sedemikian rupa sehingga
mendorong warga untuk mengambil penilaian dan sikap. Bahkan di negara yang
berkembang dan beragam pun, fungsi forum pers ini bisa menghasilkan demokrasi.
Tetapi harus diperhatikan bahwa forum ini berlaku untuk seluruh komunitas,
bukan hanya untuk kelompok yang berpengaruh atau menarik secara demografis.
7. Menarik
dan Relevan
Wartawan harus membuat hal yang
penting menjadi menarik dan relevan. Tugas wartawan adalah menemukan cara
membuat hal penting menjadi menarik untuk setiap cerita. Jurnalisme adalah
bertutur dengan sebuah tujuan. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang
dibutuhkan orang dalam memahami dunia. Tantangannya adalah membuat informasi
tersebut menjadi bermakna, relevan, dan enak disimak.
Banyak yang menganggap sepele bahwa
berita yang menarik atau yang dapat memikat hati pembaca lebih sering dianggap
lucu dan tidak serius dalam memuat isi berita. Namun juka berita mengandung relevansi
malah dianggap tidak menarik untuk dibaca atau dikonsumsi oleh pembaca karena
dianggap kering, garing, dan membosankan.
8. Komprehensif
dan Proporsional
Wartawan harus menjaga proporsi
berita dan menjadikannya komprehensif. Seperti halnya peta, nilai jurnalisme
bergantung pada kelengkapan dan proporsionalitas. Mengumpamakan jurnalisme
sebagai pembuatan peta membantu kita melihat bahwa proporsi dan
komprehensivitas adalah kunci akurasi. Hal ini bukan hanya berlaku bagi sebuah
berita. Halaman depan dan sebuah berita yang lucu dan menarik pun, jika tidak
mengandung sesuatu yang signifikan adalah sebuah pemutarbalikan.
Kovach dan Rosenstiel mengatakan bahwa
banyak sekali surat kabar yang menyajikan sebuah berita tidak proposional. Banyak
berita yang judul-judulnya dibuat sensional. Ditekankan pada aspek emosional. Proporsional
serta komperhensif dalam dunia jurnalistik memang seilmiah dengan pembuatan
sebuah peta. Karena berita yang dibuat harus dipilih, mana yang sekiranya
berita penting dan mana berita yang tidak penting, mana yang harusnya menjadi
berita utama dan mana yang hanya dimasukkan dalam berita sebagai berita
pendukung saja. Menurut Kovach dan Rosenstiel pemilihan berita harus subjektif.
Dengan penyajian berita yang Proporsional
serta komperhensif masyarakat atau membaca bisa mengetahui bahwa wartawan
mencoba proposional atau tidak, begitu juga sebaliknya masyarakat atau pembaca juga
akan mengetahui jika wartawan Cuma berniat telanjang bulat.
9. Wartawan
Bertanggung Jawab Pada Nurani
Setiap wartawan, dari ruang redaksi
sampai ruang direksi harus mempunyai etika dan tanggung jawab personal sebagai
panduan moral. Wartawan berkewajiban untuk menyuarakan hati nuraninya dan
membiarkan orang lain untuk melakukan hal serupa. Keterbukaan redaksi merupakan
kunci utama untuk mewujudkan hal seperti itu. Setiap orang yang bekerja dalam
organisasi berita harus mengakui adanya kewajiban pribadi untuk bersikap beda
atau menentang redaktur, pemilik, pengiklan bahkan warga dan otoritas mapan
jika kejujuran dan akurasi mengharuskan mereka berbuat begitu.
Menciptakan prinsip itu tidaklah mudah
karena berdasarkan kebutuhan, ruang reaksi bukanlah tempat dimana semokrasi
dijalankan. Menciptakan suasana kerja menjadi nyaman, bebas, dan semua orang memiliki
hak dalam berpendapat itu tidak mudah. Sedangkan setiap individu diharuskan
untuk menyuarakan hati nurani sehingga urusan manajemen jadi lebih baik dan
berjalan dengan baik. Akan tetapi redaktur memiliki tugas untuk memahami
persoalan ini. Jika wartawan berani mengambil keputusan secara final maka harus
siap dalam menerima kritik dan saran dari pembaca.
Inilah Sembilan elemen yang ditulis
oleh Bill Kovach dan Tom Resenstiel dalam dunia jurnalisme. Semoga bisa
menambah pengetahuan dan pemaham mengenai dunia jurnalisme. Kritik dan saran
sangat saya butuhkan. Terimakasih.
Referensi :
Web blog Himmah Online : https://himmahonline.id/analisis/9-elemen-jurnalisme/
https://en.wikipedia.org/wiki/Tom_Rosenstiel
Ichi Kepompong: http://ichi-kepompong.blogspot.com/2008/11/sembilan-elemen-jurnalisme.html?m=1
Megandika Wicaksono : http://megandika.blogspot.com/2012/12/biografi-bill-kovach.html?m=1
https://shandaymyday.blogspot.com/2019/11/10-elemen-jurnalisme-menurut-bill-kovach.html?m=1
Haurissa, Vanesya Christin, dkk. 2020. “ Integrasi
Kajian Budaya Empat Perdana Pada Negeri Hila Peranan Jurnalistik Ambon Ekspres
untuk Mendidik Pengguna Media melalui Etika Berita bagi Masyarakat di Kota Ambon”.
Jurnal Pttimura Civic, 1(1): 26-37.
Wijaya, Toni. 2019. “ Pengaruh 9 Elemen
Jurnalisme dalam Kebijakan Redaksional Teknora”. Jurnal MetaKom, 3 (1): 1-15.



Komentar
Posting Komentar