Keresahan Masyarakat Wonokerto disebabkan adanya Rumah Diskotek Malam

 

Rumah Diskotek Malam Menambah Masalah Baru bagi Masyarakat Wonokerto

Rembang- Rumah diskotek malam merupakan rumah yang dihuni oleh beberapa pekerja perempuan yang bersenang-senang dengan laki-laki hidung belang. Rumah diskotek ini berlokasi di Desa Wonokerto. Terhitung sudah hampir tiga bulan rumah diskotek ini beroprasi setiap hari tanpa libur. Pemilik rumah diskotek memanfaatkan rumah kosong milik salah satu warga sebagai tempat prostitusi. Rumah diskotek berkedok sebagai rumah hantu itu adalah julukan rumah besar di depan gang rumah saya. Jika dilihat dari luar, rumah diskotek ini bisa dikata seperti rumah biasa. Karena di depan rumah tersebut digunakan sebagai tempat penjualan kayu. Sehingga terkesan sebagai rumah milik warga dan tidak menimbulkan pikiran-pikiran tertentu.


Awal mula hiburan malam di mulai dari manusia mengenal musik. Musik adalah beberapa nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Musik merupakan bagian dari kebudayaan yang terus berkembang sepanjang waktu. Tempat dunia gemerlap atau dikenal dengan dugem pun muncul ketika musik disko sedang booming (sedang hangat-hangatnya). Dunia malam adalah aktifitas yang ada saat malam tiba. Hiburan malam, tempat hiburan, dan para penikmatnya adalah satu paket pengisi dunia malam. Malam hari adalah milik mereka yang mencari kesenangan duniawi. Waktunya untuk bersantai dan menikmati hidup. Misalnya saja bersuka ria di berbagai klab malam, kafe, diskotik, karaoke atau pusat hiburan lainnya.

“Dulu rumah itu dibiarkan kosong, jadi saya manfaatkan untuk mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saya memang berencana untuk membuka rumah diskotek malam dan akhirnya terwujud” Ujar AW, Jumat (2/7).

Selama beroperasi rumah diskotek ini awalnya tenang karena dilengkapi dengan peredam. Sehingga tidak terdengar suara berisik. Namun pada awal puasa masalah mulai muncul. Banyak masyarakat yang mengeluh mengenai adanya rumah diskotek tersebut.

“Saya kira bakal jadi tempat nongkrong ternyata dibuat tempat malam. Sedangkan anak saya laki-laki, saya takut jika anak saya rusak moralnya karena melihat perempuan rok mini keluar masuk rumah itu” Jelas Narto, Jumat (2/7).

“Awal bulan puasa rumah dikotek itu sangat menganggu, banyak suara laki-laki tertawa dan teriak di tengah malam. Mungkin sedang mabuk di dalam” Jelas Bu Prat.

Semenjak awal puasa, rumah diskotek itu mulai menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat sekitarnya. Sering terdengar suara perempuan dan laki-laki yang asik bernyanyi di tengah malam.

“Minggu ke 1 bulan puasa, peredam di ruangan bocor, sehingga warga mendengar segala sesuatu dari dalam rumah diskotek milik saya. Saya sudah berusaha untuk menghubungi teknisi agar di benarkan” Jelas AW.

Salah satu pekerja berinisial RN bekerja di rumah diskotek tersebut. RN sering keluar masuk dengan menggunakan pakaian serba ketat. Hanya saja dia bekerja sebagai kasir. Namun tidak mempungkiri bahwa dia ikut dalam memperlancar pekerjaannya.

“Saya di sana sebagai kasir, bukan sebagai pelayan ataupun pemandunya. Mami meminta saya untuk tidak ikut melayani laki-laki yang datang. Namun sesekali saya juga ikut bernyanyi untuk menghilangkan kebosanan saya. Tetapi hal itu tidak sering, hanya sesekali saja. Dikarenakan jam operasinya 24 jam. Saya pasti akan kelelahan jika ikut melayani” Jelas RN, Sabtu (3/7).

RN yang sekarang berumur 19 tahun itu harus bekerja di tempat yang bisa saja berbahaya baginya. Namun terdesak akan kebutuhan ekonomi dia rela bekerja membantu biaya kebutuhan sehari-hari. RN mengaku bahwa dia sebenarnya tidak ingin bekerja di rumah diskotek ini. Namun karena jarak rumah yang dekat hal itu mendorong dia untuk bekerja dengan perempuan-perempuan yang dengan sengaja menjual harga dirinya demi uang.

Dengan adanya kebocoran peredam tersebut, pemilik usaha rumah diskotek malam berusaha membenarkan peredamnya. Memang pada jangka waktu satu minggu tidak terdengar apapun. Namun, mendekati lebaran suara musik kembali terdengar. Selang 2 hari RN diminta untuk membagi bingkisan lebaran untuk warga sekitar rumah diskotek.


“Iya, saya bahkan juga ikut menerima. Namanya di kasih ya saya terima. Saya mengira pasti ini sebagai sogokan agar tidak dibubarkan. Makanya kami dikasih bingkisan lebaran. Strategi bisnis yang bagus” Jelas Bu Umi, Sabtu (3/7).

“Saya tahu, pasti warga sekitar mengira bahwa saya memberi bingkisan lebaran itu sebagai sogokan agar bisnis saya tidak dibubarkan. Saya pernah mendengar cemooh itu secara langsung oleh beberapa ibu-ibu. Namun saya hanya ingin berbagi, niat saya baik. Jika warga berpikir negative saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya selama kerusakan peredam ruangan” Jelas AW.

“Saya sangat terganggu dengan musik yang keras. Selain itu, suara laki-laki yang teriak, tertawa, dan bernyanyi hingga subuh baru selesai. Hampir semalaman saya tidak bisa tidur. Itu bukan sekali dua kali tapi beberapa kali. Saya kira pantas untuk dibubarkan saja” Ujar Bambang.

Setelah banyak masyarakat yang mengeluh akan suara berisik, akhirnya polisi mengeledah rumah diskotek itu. Setelah polisi berusaha mengamankannya tidak lagi terdengar suara musik di siang hari maupun malam hari.

“Polisi ke sini bukan untuk membubarkan usaha saya, namun hanya melihat dan memeriksa minuman keras. Sehingga saya diminta untuk berhenti beroperasi selama satu minggu kedepan” kata AW (7/7). Akhirnya keresahan warga sedikit berkurang, setelah didatangi oleh polisi, rumah diskotek ini harus berhenti beberapa hari ke depan. sehingga banyak masyarakat yang senang mengetahui kabar itu. Selain itu, banyak yang bersyukur sebab bisa tidur dengan nyenyak tanpa mendengar musik dan suara teriakan laki-laki mabuk ditengah malam.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Berita Nalar Pincang UGM atas Kasus Pemerkosaan

Mengenal Mochtar Lubis (1922-2004) Jurnalistik Indonesia